movie review

Movie Review : COCO (2017)

Rating : PG for thematic elements

Rate : 9 / 10

coco poster

Sinopsis : Terlepas dari larangan untuk bermusik dari keluarganya, Miguel Rivera (Anthony Gonzalez) bermimpi untuk menjadi musisi terkenal seperti idolanya Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Putus asa untuk membuktikan talentanya, Miguel tiba-tiba masuk ke dalam dunia kematian “Land of the Dead”. Setelah bertemu dengan seorang penipu bernama Héctor (Gael García Bernal), dua teman baru ini memulai sebuah perjalanan yang luar biasa untuk membuka kisah nyata di balik sejarah keluarga Miguel.

Walt Disney memulai debut animasinya dari jaman baheula di tahun 1928 melalui film pendek Plane Crazy. Mulai dari situ deh, muncul juga berbagai film animasi lain, muncul juga pasukan putri-putri kerajaan yang dinamakan Disney Princesses (Snow White, Cinderella, Aurora, Belle, Mulan dsb). Setelah lama berkecimpung di animasi 2D, Disney mulai merambah animasi 3D dengan menggaet studio Pixar. Dimulai dengan Toy Story (1995) dan sampai sekarang film-film Disney-Pixar menjadi film animasi yang paling berkualitas di dunia, sukses terus memenangi Best Animated Feature dan sampai masuk nominasi Best Picture di Academy Awards atau Oscar.

Film animasi Disney selalu menemani masa kecil gua (dan masa kecil orang lainnya). Inget banget ortu beliin VCD film-filmnya kayak Tarzan (1999), Mulan (1998), Hercules (1997), The Lion King (1994) dan The Little Mermaid (1989) (dulu takut banget sama Ursula). Mulai deh, tiap ada film Disney sayang banget untuk dilewatin. Pas nonton Finding Nemo (2003) di bioskop dapet kursi terdepan dan tetep happy aja nonton (fenomenal abiss) dan berlanjut sampai sekarang. Selain filmnya yang bagus musik-musiknya juga indah dan memorable. Daan tahun 2017 ini, Coco menjadi film dengan kisah original terakhir, karena yang besok rilis semuanya sekuel dari film terdahulu (Incredibles 2 (2018) dan Toy Story 4 (2019)). Bercerita tentang budaya Meksiko, mengangkat tema Day of the Dead (Día de Muertos), hari dimana orang-orang Meksiko kumpul keluarga, mendoakan leluhur-leluhurnya dengan memasang foto dan benda-benda favorit almarhum. Ekspektasi awal denger premise nya bagi gua kurang menarik, tapi we’ll see ;^)

coco premieres

Keluarga Besar Coco

Hit the review button! (no spoiler)

(more…)

Advertisements

Movie Review : MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK (2017)

Rating : D [17+]

Rate : 8 / 10

poster marlina

Sinopsis : Marlina (Marsha Timothy), seorang janda yang tinggal sendiri di Sumba didatangi sekelompok laki-laki. Mereka mencoba memerkosa dan mencuri harta benda Marlina. Berusaha membela diri, Marlina membunuh beberapa laki-laki tersebut. Saat melakukan perjalanan, Marlina dihantui oleh salah satu korban..

Festival Film Cannes tiap tahunnya pasti selalu jadi pembicaraan, dan tahun 2017 juga merupakan tahun yang spesial bagi Indonesia karena film karya Mouly Surya (usia 36 tahun, surprisingly so babyfaced) ini berhasil masuk menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di Festival Film yang sudah ada sejak tahun 1946. Masuk dalam kategori Directors’ Fortnight, kategori yang muncul sejak 1969. Kategori ini bersifat independen dan untuk showcase film-film / dokumenter seantero dunia.

Untuk film Indonesia yang bisa masuk Cannes itu jarang banget, tercatat cuma 4 feature film yang ditayangkan, yaitu Tjoet Nja’ Dhien (1988), Daun di Atas Bantal (1998), Serambi (2006) dan Marlina ini. Prestasi paling membanggakan untuk Indonesia sukses diraih film pendek Prenjak (In The Year of Monkey) (2016) karya Wregas Bhanuteja yang berhasil terpilih sebagai film pendek terbaik di kategori Leica Cine Discovery Prize (ini merupakan film Indonesia pertama yang menang award di Cannes lohhh). Marsha Timothy sebagai Marlina juga berhasil meraih penghargaan aktris terbaik di International Fantastic Film Festival of Catalonia, Spanyol (SITGES). Menang juga di kategori skenario terbaik pada Festival International du Film deFemmesde Sale, Maroko (FIFFS) dan penghargaan Asian NestWave dari The QCinema Festival, Filipina. Dapet penghargaan di Polandia, Tokyo juga dan lainnya. Penghargaan banyak, masuk Cannes pula ya tancap nonton lah ;^)

marlina premiere masuk

Pasukan Cannes 2017 !

Review nya rada spoiler yaa ^^v

(more…)

Movie Review : POSESIF (2017)

Rating : R [13+]

Rate : 8.5/10

poster posesif masuk.jpg

Sinopsis : Hidup Lala (Putri Marino) jungkir balik. Bukan karena loncatan indahnya dari menara sepuluh meter, bukan pula karena ayahnya yang melatihnya dengan keras, tapi karena cinta pertamanya. Yudhis (Adipati Dolken), murid baru di sekolahnya, berhasil menjebak hati Lala. Namun perlahan Lala dan Yudhis harus menghadapi bahwa kasih mereka bisa hadirkan kegelapan. Cinta Yudhis yang awalnya tampak sederhana dan melindungi ternyata rumit dan berbahaya. Janji mereka untuk setia selamanya malah jadi jebakan. Lala kini mengambang dalam pertanyaan: Apa artinya cinta? Apakah seperti loncat indah, yang bila gagal, harus ia terus coba lagi atas nama kesetiaan? Ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam kesia-siaan?

Berawal dari promo film Posesif yang begitu hype di Instagram dan sering banget masuk explore. Iseng buka-buka aja, dan bam! Poster film nya yang simpel, fresh dan indah begitu memikat hati. Langsung deh cus nonton trailernya di YouTube. Acungan jempol buat tim produksi memakai alunan lagu Dan dari Sheila On 7 sebagai pembuka trailer nya (Jatuh cinta cuy). Hati memantapkan diri untuk segera nonton dong 😉

Penasaran juga sama pemainnya apalagi pelum pernah satupun nonton film si kakang Adipati Dolken,  idola kaum adam hawa (dulu pengen nonton Jendral Soedirman (2015) tapi ga kesampaian) yang terkenal karena sukses jadi salah satu aktor paling potensial di Indonesia. Daan yang paling spektakuler, filmnya belum rilis aja sudah mendapatkan 10 nominasi Festival Film Indonesia 2017 loooh *tepuk tangan sambil kayang. Nominasinya yaituu, Pemeran Utama Wanita Terbaik (Putri Marino), Pemeran Utama Pria Terbaik (Adipati Dolken), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Cut Mini), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru), Penulis Skenario Terbaik (Gina S. Noer), Pengarah Sinematografi Terbaik (Batara Goempar Siagian) [Pak Dekan alih profesi jadi sinematografer, canggih!], Penyunting Gambar Terbaik (W. Ichwan Diardono), Penata Rias Terbaik (Cika Rianda), Film Terbaik, dan Sutradara Terbaik (Edwin). Sayang di kategori Musik/Lagu ga dapet nominasi karena lagu-lagu yang dipakai di Posesif bukan lagu orisinil, padahal bagus-bagus.

posesif cast masuk

Kaosan, tapi tetap berkelas 🙂

Lanjut untuk ulasannya (no spoiler)

(more…)

Movie Review : Pengabdi Setan (2017)

Rating : D [17+]

Rate : 8.5/10

poster pengabdi setan

Sinopsis : Berkisah tentang keluarga kecil yang mengalami keterpurukan di tahun 1981. Setelah sakit yang tak kunjung sembuh-sembuh selama 3 tahun, akhirnya Ibu meninggal dunia. Bapak kemudian memutuskan untuk bekerja di luar kota meninggalkan Rini (Tara Basro) dan 3 adik-adiknya sendiri. Selang beberapa hari kemudian, anak-anak merasa bahwa Ibu kembali ke rumah. Situasi semakin mencekam dan mengerikan saat mereka tahu kalau Ibu datang lagi tidak sekedar menjenguk, namun untuk menjemput mereka.

Kembali nonton film horooor, yah pada dasarnya gua sulit menolak untuk gak nonton filmnya Joko Anwar sih. Dari Janji Joni (2005) yang super komikal sampai A Copy of My Mind (2015) yang bittersweet. Kecintaan Joko Anwar sama Pengabdi Setan (1982) (sukes menyandang status cult classic) membawa beliau ngelobby Rapi Films, production house film yang terdahulu (baru tau akika, udah jadul juga ya si Rapi ini) untuk direct film remake terbarunya.

The Omen (1976) jadi pengalaman pertama gua nonton film horor jadul (semata-mata nonton karena ada Gregory Peck). Film horor jadul lebih mementingkan kekuatan cerita, tapi agak cheesy di beberapa scene karena efek yang seadanya (belum ada CGI dan make up kekinian) memang membuat adegan horornya jadi ga horor2 banget. Tapi beda loh untuk Pengabdi Setan yang jadul, mungkin low point nya di akting beberapa pemainnya, tapi make up setannya itu keren banget untuk ukuran tahun 80an.

Kualitas Pengabdi Setan terbaru ini tentu ga diragukan lagi, fenomenal untuk genre horror bisa mendapatkan 13 nominasi Festival Film Indonesia 2017 yang bakal diselenggarakan di Manado, 11 November nanti. Nominasinya adalaah, ada di kategori Sutradara Terbaik (Joko Anwar), Penata Busana Terbaik (Isabelle Patrice), Penata Rias Terbaik (Darwyn Tse) [kalau yang ini ga menang, kacaau FFI], Pengarah Artistik Terbaik (Allan Sebastian), Penata Efek Visual Terbaik (Finalize Studios), Penata Musik Terbaik (Aghi Narottama, dkk), Pencipta Lagu Terbaik (The Spouse – Kelam Malam) [lagunya mistis banget, semoga menangg], Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa, dkk), Penyunting Gambar Terbaik (Arifin Cuunk), Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (Joko Anwar), Pengarah Sinematografi Terbaik (Ical Tanjung), Pemeran Anak Terbaik (Muhammad Adhiyat) [Iaan, best of luck!] dan pastinya nominasi Film Terbaik. Total sampai segitu sukses menjadikan Pengabdi Setan film dengan nominasi terbanyak di FFI 2017 loooh (standing ovation!)

keluarga pengabdi setan

Mari bertemu dengan keluarga Pengabdi Setan

Yuk lanjutkan review nya (no spoiler)

(more…)

Movie Review : IT (2017)

Rated R for violence/horror, bloody images, and for language 

Rate : 8.5/10

it-teaser-poster.jpg

Sinopsis : Tahun 1988 di Kota Derry, Maine satu persatu anak-anak mulai menghilang dan meninggalkan bercak darah. Hal tersebut menimbulkan rasa penasaran bagi sekelompok anak-anak di kota. Namun, di usahanya untuk mengungkap kasus tersebut, justru sekelompok anak lainnya itu diteror oleh seorang badut yang sebenarnya adalah iblis yang memiliki kemampuan berubah bentuk yang bernama Pennywise (Bill Skarsgård). Mereka menjadi target teror badut tersebut.

I am not a fan of horror movies, wujud setannya itu lho suka kebayang-bayang terus :/ Lebih suka nonton genre horor kalau rame-rame sama temen tapi kadang juga sok berani nonton sendiri kalau memang horornya bagus kayak Kala (2007) [Joko Anwar’s masterpiece, ketakutan sendiri nontonnya tapi buagus banget] atau Psycho (1960) [Hitchcock’s classic, Perkins acting and the ending gave me goosebumps].

I totally ignore this when the first teaser come out 😦 Ya cukup tau aja kalau film ini merupakan remake miniseri IT (1990) yang gua juga ga tertarik untuk nonton. Tapiii, pas diajakin nonton mikir-mikir juga (thank you Njar, hho) dan sempet baca beberapa review luar bilang ini termasuk remake yang bagus. Couldn’t say no to high quality movies though. Yap, gua takut liat setannya tapi masih bisa dengerin atau baca subtitle kan. So that’s my method of watching horror movies (mata ditutup haha)

This slideshow requires JavaScript.

Let the review begin! (no spoiler)

(more…)

Movie Review : ZIARAH (2016)

Rating : R [13+]

Rate : 8.5/10

ziarah

Sinopsis : Pada Agresi Militer Belanda ke-2 tahun 1948, Mbah Sri (Ponco Sutiyem) terpisah dengan Pawiro, suaminya karena pergi berperang. Setelah perang usai, Pawiro tak pernah kembali. Puluhan tahun berlalu, Mbah Sri menjanda hingga masa tuanya. Sahabat-sahabat terbaiknya meninggal. Mbah Sri berharap bisa menemukan tanah terbaik untuk pemakamannya, satu petak tanah di sebelah makam orang yang dicintainya. Suatu sore, Mbah Sri bertemu dengan tentara veteran yang mengenal Pawiro. Tentara itu mengetahui di mana Pawiro tertembak oleh Belanda pada 1949. Berbekal informasi yang tidak utuh, Mbah Sri mencari makam suaminya…

Bless the unexpected, tau film ini dari Rio Dewanto (sok kenal :-B), maksudnya gara-gara kepo Instagram nya (clickbait effect). Dan ketemulah Instagram @filmziarah. Yang paling buat saya pengen banget nonton ini, efek si mbah sepuh 95 tahun yang jadi nomine aktris terbaik, a.k.a Mbah Ponco Sutiyem. Jarang banget loh, apalagi film Indonesia dengan leading actress setua beliau. Okelah nonton

626849-1000xauto-gala-premier-film-ziarah

Mbah Ponco Sutiyem dan Sutradara BW Purba Negara. Gala premiere nya, kesederhanaan yang haqiqi

Review ? Jamin ga spoiler haha

(more…)

Movie Review : BATMAN v SUPERMAN : DAWN OF JUSTICE (2016)

Rated PG-13 for intense sequences of violence and action throughout, and some sensuality

Rate : 6.5/10 bvs poster

Sinopsis : Umat manusia dilanda kebingungan tentang sosok pahlawan seperti apa yang mereka butuhkan. Pada bagian lain, terjadi pertikaian antara Batman (Ben Affleck) dan Superman (Henry Cavill). Keduanya sibuk berperang demi menunjukkan siapa yang paling pantas untuk menjadi pahlawan di Bumi. Bahaya dan ancaman baru datang dari sosok penjahat yang paling menakutkan, Lex Luthor (Jesse Eisenberg). Sekali lagi, eksistensi umat manusia kembali terancam dan bencana besar tak dapat dihindari.

Koass HiVi! is back! Setelah nonton Spectre (2015), The Hunger Games : Mockingjay Part 2 (2015) dan John Wick (2014) bareng, kali ini sukses nonton premiere film superhero pembuka 2016, hehe *terima kasih Bang Randop sudah ngantriin tiket. Ekspektasi rendah aja sih, secara Man Of Steel (2013) juga masuk dalam kategori film superhero yang biasa2 aja (menurut gua nyaha). Karena ini masuk wajib tonton 2016 jadi yasudah capcus

bvs premiere

The Holy Trinity, versi Red Carpet

Review ? Spoiler dikit boleh yaa (more…)

Movie Review : CAROL (2015)

Rated R for a scene of sexuality/nudity and brief language

Rate : 9.5/10 *pengen kasih 10/10 tapi kesempurnaan cuma milik Allah SWT

carol poster fix

Sinopsis : Jalinan cinta terlarang antara dua wanita yang terjadi di New York era 50-an. Therese Belivet (Rooney Mara) adalah seorang karyawati di sebuah department store yang jatuh cinta dengan Carol Aird (Cate Blanchett), seorang wanita yang lebih tua dan telah menikah.

Yak ini dia yang sukses bikin dunia perLGBT-an heboh (yang sekarang tambah marak), sukses buat Cate Blanchett sama Rooney Mara jadi OTP ter OTP kaya Leo & Kate dan juga sukses bikin gua jadi shipper nya Cate x Rooney :-B (the way they look at each other is so real dude!)

carol post

Darling, hold my haaand >.<

(more…)