movie review

Movie Review : SEKALA NISKALA (2017)

Rating : Remaja [13+]

Rate : 7.5 / 10

sekala poster ya.jpg

Sinopsis : Berkisah tentang sepasang kembar berusia 10 tahun Tantra (Gus Sena) dan Tantri (Thaly Kasih). Tantri harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus menjalani kehidupan sendiri. Tantra sepanjang hari hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit karena karena sakit yang diderita dan hanya memiliki sedikit sisa waktu di dunia. Situasi ini menimbulkan sesuatu di pikiran Tantri. Tantri kerap terbangun di tengah malam dari mimpi dan melihat Tantra. Di malam hari seakan menjadi tempat bermain mereka. Di bawah bulan purnama Tantri menari tentang perasaannya. Seperti bulan yang redup dan digantikan oleh matahari, begitu pula Tantra dan Tantri, saudara kembar yang mengalami perjalanan magis dan relasi emosional melalui ekspresi tubuh, antara kenyataan dan imajinasi, kehilangan dan harapan.

Sekala Niskala atau judul bahasa inggrisnya The Seen and Unseen, film panjang kedua dari Kamila Andini sudah malang melintang di banyak Festival Film dunia seperti Busan International Film Festival 2017, Toronto International Film Festival 2017, Singapore International Film Festival 2017 juga menang penghargaan di Tokyo FILMeX 2017 (Grand Prize), Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017 (Golden Hanoman Award), Asia Pacific Screen Award 2017 (Best Youth Feature Film) dan yang paling wah dapet Grand Prix Best Feature Film untuk kategori Generation Kplus di Berlinale 2018. Bangga banget dong, Sekala bum bum merupakan film Indonesia pertama, kategori full length film yang berhasil menang di festival sekelas Berlin International Film Festival. Festival tahunan yang diadakan di Berlin, Jerman tiap bulan Februari dengan beruang sebagai piala utamanya.

Kamila Andini merupakan putri sulung dari sutradara Garin Nugroho (memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya) dan film pertamanya The Mirror Never Lies (2011) juga berhasil menang di berbagai festival film, termasuk Festival Film Indonesia dan Festival Film Bandung. Dan ga jauh beda dari film pertamanya yang tokoh utamanya anak-anak, di Sekala tokoh utamanya Tantra dan Tantri merupakan kembar buncing (laki-perempuan). Menurut kepercayaan orang Bali (mitosnya) dianggap bencana daapat berakibat dikucilkannya seluruh keluarga tapi berbeda bagi keluarga kasta atas, kembar buncing dianggap anugerah. Mitos ini ga diangkat untuk filmnya kok, kita akan diajak masuk ke dunia yang terlihat dan tak terlihat dari sudut pandang Tantri.

sekala berlinale

The Happy Team

Spoiler!

(more…)

Advertisements

Movie Review : DILAN 1990 (2018)

Rating : Remaja [13+]

Rate : 6.5 / 10

dilan poster yes

Sinopsis : Milea (Vanesha Prescilla) bertemu dengan Dilan (Iqbaal Ramadhan) di sebuah SMA di Bandung tahun 1990, saat Milea pindah dari Jakarta ke Bandung. Perkenalan yang tidak biasa membawa Milea mengenal keunikan Dilan, pintar, baik hati, romantis. Cara Dilan mendekati Milea tidak sama dengan teman-teman lelaki lain, bahkan Beni (Brandon Salim), pacar Milea di Jakarta. Perjalanan hubungan mereka tak selalu mulus. Beni, Nandan (Debo Andryos), Kang Adi (Refal Hadi) mewarnai perjalanan itu. Dilan membuat Milea percaya ia bisa tiba di tujuan dengan selamat.

Tahun 2018, perfilman Indonesia dibuka dengan film remaja ter-fenomenal. Gimana engga, Dilan 1990 dalam 12 hari penayangan aja sudah tembus 4 juta penonton (tepok nyamuk). Film Dilan diangkat dari novel best seller karangan Pidi Baiq, seniman multitalenta dari Bandung. Gua sendiri belum pernah baca novelnya, dan awalnya mengira novel Dilan ini adalah novel keluaran tahun 90an yang sekarang heboh lagi (dasar ga update). Searching lah gua, jadi novelnya adalah kisah trilogy, yaitu Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 terbitan 2014, lalu Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 terbit tahun 2015 dan Milea: Suara Dari Dilan yang terbit tahun 2016. Mungkin yang membuat kisahnya begitu viral dari dialog-dialognya kali ya. Gombalan-gombalannya sukses bikin baper (bawa perasaan) remaja masa kini.

Sekitar Mei 2017, penggemar novel Dilan dibuat heboh karena novel kesayangannya akan segera diadaptasi ke film. Banyak artikel yang buat daftar siapa yang paling cocok jadi Dilan. Nama-nama seperti Adipati Dolken, Miqdad Addausy, Gusti Rayhan, Jefri Nichol, Leon Dozan dll. digadang-gadang jadi kandidat pemeran Dilan. Bulan Juli pengumuman casting nya keluar dan eng ing eng.. Iqbaal Ramadhan mantan anggota boyband berhasil jadi pemeran utama. Komentar netijen sih banyakan kecewa, dianggap kurang cocok lah, kurang bandel dsb. Penasaran akhirnya terjawab pas trailernya keluar di bulan Desember. My first thought.. not too convincing karena aktingnya yang kaku dan dialog-dialognya yang cheesy. Tapii, trailer kan cuma nampilin potongan 2 menit dan prinsip gua kalau nonton film apapun, kosongin aja pikiran dan gausah berekspektasi macem-macem, daripada kuciwa berat kalau filmnya ga sesuai harapan. Jadi daripada nge judge aneh-aneh lebih baik nonton filmnya yukk ^^v (Btw, gua nonton ini dapet kursi kedua dari depan, berasa balik jaman ABG lagi. Terlalu niat wkwk).

dilan 1
Es krimnya dikasih dong bang

Spoiler yaa

(more…)

Movie Review : CALL ME BY YOUR NAME (2017)

Rating : R for sexual content, nudity and some language

Rate : 8.5 / 10

CMBYN poster 1

Sinopsis : Musim panas tahun 1983, Elio (Timothée Chalamet) dan keluarganya menghabiskan waktu bersama di sebuah vila di Lombardy, Italia. Setiap tahunnya akan ada mahasiswa doktoral yang datang ke vila Elio bekerja sebagai intern selama 6 minggu. Kali ini, datang Oliver (Armie Hammer) yang berasal dari Amerika Serikat. Pertemuan antara Elio dan Oliver inilah yang membawa perjalanan tak terlupakan bagi keduanya

Rutin membuka situs dewa bagi dunia perfilman, yaitu IMDb jadi banyak tau soal film-film terbaru dan sukses menemukan satu “berlian” ini. Dari posternya aja udah bilang ini film bagus say! Yak, memang paling suka poster sederhana dengan warna yang eye catching dan lembut kaya gini. Awalnya ga ada ekspektasi apa-apa, kirain tentang persahabatan ala bromance gitu, dan baca sinopsis oh yaa, kembali disuguhkan film dengan tema LGBT tampaknya. Setelah nonton trailer nya, agak geli gimana gitu liat Armie Hammer pake celana short dan telanjang dada sambil ngeliat Timothée Chalamet yang juga topless wkwk.

Call Me By Your Name merupakan film adaptasi dari novel berjudul sama karangan André Aciman. Novel debutnya ini terbit di tahun 2007 dan mendapat respon yang sangat baik. Awalnya film ini bakal dimotori oleh James Ivory (penulis naskah) dengan salah satu castnya abang Shia LaBeouf, tapi project nya on scrap dan sekitar tahun 2016 menemukan sutradara yang baru. Filmnya sendiri ga membahas seluruh cerita di novelnya. Walau ga mencakup semua, film arahan Luca Guadagnino ini berhasil dapat standing ovation di New York Film Festival, Timothée Chalamet menang Best Actor di New York Film Critics, masuk berbagai festival film, dapat nominasi Golden Globe daan terbukti deh masuk nominasi Oscar. Ada Chalamet yang menjadi nominator Best Actor termuda sepanjang sejarah (doi baru berusia 22 tahun), Best Adapted Screenplay (James Ivory), Best Original Song (“Mystery of Love”) dan bahkan Best Picture.

CMBYN tim armie

Can you feel the love tonight ?

Mungkin udah agak telat buat review ini wkwk, but it’s better late than never (no spoiler)

(more…)

Movie Review : NIGHT BUS (2017)

Rating : Dewasa [17+]

Rate : 8 / 10

night bus 2

Sinopsis : Sekelompok orang menumpang sebuah bus untuk menuju Sampar, sebuah kota yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya. Sampar dijaga ketat oleh sekelompok tentara yang siap siaga melawan para militan pemberontak yang menuntut kemerdekaan atas tanah kelahiran mereka. Setiap orang yang menumpang bus ini memiliki tujuannya masing-masing. Mereka berpikir bahwa ini akan menjadi perjalanan menuju daerah konflik yang seperti biasa, tanpa mereka sadari ada penyusup yang membawa pesan penting yang harus di sampaikan ke Sampar. Situasi menjadi semakin menegangkan ketika semua orang harus memperjuangkan hidupnya di sela-sela desingan peluru. Mereka bahkan harus menghadapi pihak lain yang justru tidak menginginkan konflik berakhir. Kaum oportunis, pemelihara konflik karena mereka hidup dari konflik Tidak ada yang tahu, siapa yang akan mati dan siapa yang akan tetap hidup.

Film yang diproduseri Darius Sinathrya dan Teuku Rifnu Wikana ini aslinya tayang pada April 2017. Sepertinya kalah saing dengan film bioskop lainnya, berhasil tayang dan lewat begitu saja dengan jumlah penonton sekitar 20 ribu.. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang sukses borong 6 piala FFI 2017 (dari total 12 nominasi), bahkan menjadi sukses Film Terbaik. Cerita Night Bus sendiri diadaptasi dari cerita pendek karya aktor utamanya sekaligus produser T. Rifnu Wikana yang berjudul Selamat (klik aja yang mau baca cerpennya)

Sukses di FFI langsung membawa rejeki durian runtuh ke tim Night Bus, langsung deh filmnya on demand lagi dan banyak yang ingin nonton.  Efek dari situ, ada beberapa kota yang beruntung dapat penayangan ulangnya, cuma di Jakarta, Surabaya, Bekasi dan Bandung. Night Bus juga masuk di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017, tiket online langsung ludes terjual dan pada hari H penayangan, ngantri tiketnya nguler luar biasa. Melihat antusiasme penonton yang ga kebagian, Jogja masuk menjadi kota beruntung yang dapat penayangannya deh. Night Bus juga kembali diundang untuk tayang di Aceh Film Festival 2017, dan antusiasme teman-teman di Aceh luar biasa banget, tapi sayangnya bioskop belum ada merata seluruh Indonesia :’)

night bus 1

Menang banyak di FFI saaay

Penasaran ? Lanjut klik untuk ulasannya (no spoiler)

(more…)

Movie Review : COCO (2017)

Rating : PG for thematic elements

Rate : 9 / 10

coco poster

Sinopsis : Terlepas dari larangan untuk bermusik dari keluarganya, Miguel Rivera (Anthony Gonzalez) bermimpi untuk menjadi musisi terkenal seperti idolanya Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Putus asa untuk membuktikan talentanya, Miguel tiba-tiba masuk ke dalam dunia kematian “Land of the Dead”. Setelah bertemu dengan seorang penipu bernama Héctor (Gael García Bernal), dua teman baru ini memulai sebuah perjalanan yang luar biasa untuk membuka kisah nyata di balik sejarah keluarga Miguel.

Walt Disney memulai debut animasinya dari jaman baheula di tahun 1928 melalui film pendek Plane Crazy. Mulai dari situ deh, muncul juga berbagai film animasi lain, muncul juga pasukan putri-putri kerajaan yang dinamakan Disney Princesses (Snow White, Cinderella, Aurora, Belle, Mulan dsb). Setelah lama berkecimpung di animasi 2D, Disney mulai merambah animasi 3D dengan menggaet studio Pixar. Dimulai dengan Toy Story (1995) dan sampai sekarang film-film Disney-Pixar menjadi film animasi yang paling berkualitas di dunia, sukses terus memenangi Best Animated Feature dan sampai masuk nominasi Best Picture di Academy Awards atau Oscar.

Film animasi Disney selalu menemani masa kecil gua (dan masa kecil orang lainnya). Inget banget ortu beliin VCD film-filmnya kayak Tarzan (1999), Mulan (1998), Hercules (1997), The Lion King (1994) dan The Little Mermaid (1989) (dulu takut banget sama Ursula). Mulai deh, tiap ada film Disney sayang banget untuk dilewatin. Pas nonton Finding Nemo (2003) di bioskop dapet kursi terdepan dan tetep happy aja nonton (fenomenal abiss) dan berlanjut sampai sekarang. Selain filmnya yang bagus musik-musiknya juga indah dan memorable. Daan tahun 2017 ini, Coco menjadi film dengan kisah original terakhir, karena yang besok rilis semuanya sekuel dari film terdahulu (Incredibles 2 (2018) dan Toy Story 4 (2019)). Bercerita tentang budaya Meksiko, mengangkat tema Day of the Dead (Día de Muertos), hari dimana orang-orang Meksiko kumpul keluarga, mendoakan leluhur-leluhurnya dengan memasang foto dan benda-benda favorit almarhum. Ekspektasi awal denger premise nya bagi gua kurang menarik, tapi we’ll see ;^)

coco premieres

Keluarga Besar Coco

Hit the review button! (no spoiler)

(more…)

Movie Review : MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK (2017)

Rating : D [17+]

Rate : 8 / 10

poster marlina

Sinopsis : Marlina (Marsha Timothy), seorang janda yang tinggal sendiri di Sumba didatangi sekelompok laki-laki. Mereka mencoba memerkosa dan mencuri harta benda Marlina. Berusaha membela diri, Marlina membunuh beberapa laki-laki tersebut. Saat melakukan perjalanan, Marlina dihantui oleh salah satu korban..

Festival Film Cannes tiap tahunnya pasti selalu jadi pembicaraan, dan tahun 2017 juga merupakan tahun yang spesial bagi Indonesia karena film karya Mouly Surya (usia 36 tahun, surprisingly so babyfaced) ini berhasil masuk menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di Festival Film yang sudah ada sejak tahun 1946. Masuk dalam kategori Directors’ Fortnight, kategori yang muncul sejak 1969. Kategori ini bersifat independen dan untuk showcase film-film / dokumenter seantero dunia.

Untuk film Indonesia yang bisa masuk Cannes itu jarang banget, tercatat cuma 4 feature film yang ditayangkan, yaitu Tjoet Nja’ Dhien (1988), Daun di Atas Bantal (1998), Serambi (2006) dan Marlina ini. Prestasi paling membanggakan untuk Indonesia sukses diraih film pendek Prenjak (In The Year of Monkey) (2016) karya Wregas Bhanuteja yang berhasil terpilih sebagai film pendek terbaik di kategori Leica Cine Discovery Prize (ini merupakan film Indonesia pertama yang menang award di Cannes lohhh). Marsha Timothy sebagai Marlina juga berhasil meraih penghargaan aktris terbaik di International Fantastic Film Festival of Catalonia, Spanyol (SITGES). Menang juga di kategori skenario terbaik pada Festival International du Film deFemmesde Sale, Maroko (FIFFS) dan penghargaan Asian NestWave dari The QCinema Festival, Filipina. Dapet penghargaan di Polandia, Tokyo juga dan lainnya. Penghargaan banyak, masuk Cannes pula ya tancap nonton lah ;^)

marlina premiere masuk

Pasukan Cannes 2017 !

Review nya rada spoiler yaa ^^v

(more…)

Movie Review : POSESIF (2017)

Rating : R [13+]

Rate : 8.5/10

poster posesif masuk.jpg

Sinopsis : Hidup Lala (Putri Marino) jungkir balik. Bukan karena loncatan indahnya dari menara sepuluh meter, bukan pula karena ayahnya yang melatihnya dengan keras, tapi karena cinta pertamanya. Yudhis (Adipati Dolken), murid baru di sekolahnya, berhasil menjebak hati Lala. Namun perlahan Lala dan Yudhis harus menghadapi bahwa kasih mereka bisa hadirkan kegelapan. Cinta Yudhis yang awalnya tampak sederhana dan melindungi ternyata rumit dan berbahaya. Janji mereka untuk setia selamanya malah jadi jebakan. Lala kini mengambang dalam pertanyaan: Apa artinya cinta? Apakah seperti loncat indah, yang bila gagal, harus ia terus coba lagi atas nama kesetiaan? Ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam kesia-siaan?

Berawal dari promo film Posesif yang begitu hype di Instagram dan sering banget masuk explore. Iseng buka-buka aja, dan bam! Poster film nya yang simpel, fresh dan indah begitu memikat hati. Langsung deh cus nonton trailernya di YouTube. Acungan jempol buat tim produksi memakai alunan lagu Dan dari Sheila On 7 sebagai pembuka trailer nya (Jatuh cinta cuy). Hati memantapkan diri untuk segera nonton dong 😉

Penasaran juga sama pemainnya apalagi pelum pernah satupun nonton film si kakang Adipati Dolken,  idola kaum adam hawa (dulu pengen nonton Jendral Soedirman (2015) tapi ga kesampaian) yang terkenal karena sukses jadi salah satu aktor paling potensial di Indonesia. Daan yang paling spektakuler, filmnya belum rilis aja sudah mendapatkan 10 nominasi Festival Film Indonesia 2017 loooh *tepuk tangan sambil kayang. Nominasinya yaituu, Pemeran Utama Wanita Terbaik (Putri Marino), Pemeran Utama Pria Terbaik (Adipati Dolken), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Cut Mini), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru), Penulis Skenario Terbaik (Gina S. Noer), Pengarah Sinematografi Terbaik (Batara Goempar Siagian) [Pak Dekan alih profesi jadi sinematografer, canggih!], Penyunting Gambar Terbaik (W. Ichwan Diardono), Penata Rias Terbaik (Cika Rianda), Film Terbaik, dan Sutradara Terbaik (Edwin). Sayang di kategori Musik/Lagu ga dapet nominasi karena lagu-lagu yang dipakai di Posesif bukan lagu orisinil, padahal bagus-bagus.

posesif cast masuk

Kaosan, tapi tetap berkelas 🙂

Lanjut untuk ulasannya (no spoiler)

(more…)

Movie Review : Pengabdi Setan (2017)

Rating : D [17+]

Rate : 8.5/10

poster pengabdi setan

Sinopsis : Berkisah tentang keluarga kecil yang mengalami keterpurukan di tahun 1981. Setelah sakit yang tak kunjung sembuh-sembuh selama 3 tahun, akhirnya Ibu meninggal dunia. Bapak kemudian memutuskan untuk bekerja di luar kota meninggalkan Rini (Tara Basro) dan 3 adik-adiknya sendiri. Selang beberapa hari kemudian, anak-anak merasa bahwa Ibu kembali ke rumah. Situasi semakin mencekam dan mengerikan saat mereka tahu kalau Ibu datang lagi tidak sekedar menjenguk, namun untuk menjemput mereka.

Kembali nonton film horooor, yah pada dasarnya gua sulit menolak untuk gak nonton filmnya Joko Anwar sih. Dari Janji Joni (2005) yang super komikal sampai A Copy of My Mind (2015) yang bittersweet. Kecintaan Joko Anwar sama Pengabdi Setan (1982) (sukes menyandang status cult classic) membawa beliau ngelobby Rapi Films, production house film yang terdahulu (baru tau akika, udah jadul juga ya si Rapi ini) untuk direct film remake terbarunya.

The Omen (1976) jadi pengalaman pertama gua nonton film horor jadul (semata-mata nonton karena ada Gregory Peck). Film horor jadul lebih mementingkan kekuatan cerita, tapi agak cheesy di beberapa scene karena efek yang seadanya (belum ada CGI dan make up kekinian) memang membuat adegan horornya jadi ga horor2 banget. Tapi beda loh untuk Pengabdi Setan yang jadul, mungkin low point nya di akting beberapa pemainnya, tapi make up setannya itu keren banget untuk ukuran tahun 80an.

Kualitas Pengabdi Setan terbaru ini tentu ga diragukan lagi, fenomenal untuk genre horror bisa mendapatkan 13 nominasi Festival Film Indonesia 2017 yang bakal diselenggarakan di Manado, 11 November nanti. Nominasinya adalaah, ada di kategori Sutradara Terbaik (Joko Anwar), Penata Busana Terbaik (Isabelle Patrice), Penata Rias Terbaik (Darwyn Tse) [kalau yang ini ga menang, kacaau FFI], Pengarah Artistik Terbaik (Allan Sebastian), Penata Efek Visual Terbaik (Finalize Studios), Penata Musik Terbaik (Aghi Narottama, dkk), Pencipta Lagu Terbaik (The Spouse – Kelam Malam) [lagunya mistis banget, semoga menangg], Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa, dkk), Penyunting Gambar Terbaik (Arifin Cuunk), Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (Joko Anwar), Pengarah Sinematografi Terbaik (Ical Tanjung), Pemeran Anak Terbaik (Muhammad Adhiyat) [Iaan, best of luck!] dan pastinya nominasi Film Terbaik. Total sampai segitu sukses menjadikan Pengabdi Setan film dengan nominasi terbanyak di FFI 2017 loooh (standing ovation!)

keluarga pengabdi setan

Mari bertemu dengan keluarga Pengabdi Setan

Yuk lanjutkan review nya (no spoiler)

(more…)

Movie Review : IT (2017)

Rated R for violence/horror, bloody images, and for language 

Rate : 8.5/10

it-teaser-poster.jpg

Sinopsis : Tahun 1988 di Kota Derry, Maine satu persatu anak-anak mulai menghilang dan meninggalkan bercak darah. Hal tersebut menimbulkan rasa penasaran bagi sekelompok anak-anak di kota. Namun, di usahanya untuk mengungkap kasus tersebut, justru sekelompok anak lainnya itu diteror oleh seorang badut yang sebenarnya adalah iblis yang memiliki kemampuan berubah bentuk yang bernama Pennywise (Bill Skarsgård). Mereka menjadi target teror badut tersebut.

I am not a fan of horror movies, wujud setannya itu lho suka kebayang-bayang terus :/ Lebih suka nonton genre horor kalau rame-rame sama temen tapi kadang juga sok berani nonton sendiri kalau memang horornya bagus kayak Kala (2007) [Joko Anwar’s masterpiece, ketakutan sendiri nontonnya tapi buagus banget] atau Psycho (1960) [Hitchcock’s classic, Perkins acting and the ending gave me goosebumps].

I totally ignore this when the first teaser come out 😦 Ya cukup tau aja kalau film ini merupakan remake miniseri IT (1990) yang gua juga ga tertarik untuk nonton. Tapiii, pas diajakin nonton mikir-mikir juga (thank you Njar, hho) dan sempet baca beberapa review luar bilang ini termasuk remake yang bagus. Couldn’t say no to high quality movies though. Yap, gua takut liat setannya tapi masih bisa dengerin atau baca subtitle kan. So that’s my method of watching horror movies (mata ditutup haha)

This slideshow requires JavaScript.

Let the review begin! (no spoiler)

(more…)

Movie Review : ZIARAH (2016)

Rating : R [13+]

Rate : 8.5/10

ziarah

Sinopsis : Pada Agresi Militer Belanda ke-2 tahun 1948, Mbah Sri (Ponco Sutiyem) terpisah dengan Pawiro, suaminya karena pergi berperang. Setelah perang usai, Pawiro tak pernah kembali. Puluhan tahun berlalu, Mbah Sri menjanda hingga masa tuanya. Sahabat-sahabat terbaiknya meninggal. Mbah Sri berharap bisa menemukan tanah terbaik untuk pemakamannya, satu petak tanah di sebelah makam orang yang dicintainya. Suatu sore, Mbah Sri bertemu dengan tentara veteran yang mengenal Pawiro. Tentara itu mengetahui di mana Pawiro tertembak oleh Belanda pada 1949. Berbekal informasi yang tidak utuh, Mbah Sri mencari makam suaminya…

Bless the unexpected, tau film ini dari Rio Dewanto (sok kenal :-B), maksudnya gara-gara kepo Instagram nya (clickbait effect). Dan ketemulah Instagram @filmziarah. Yang paling buat saya pengen banget nonton ini, efek si mbah sepuh 95 tahun yang jadi nomine aktris terbaik, a.k.a Mbah Ponco Sutiyem. Jarang banget loh, apalagi film Indonesia dengan leading actress setua beliau. Okelah nonton

626849-1000xauto-gala-premier-film-ziarah

Mbah Ponco Sutiyem dan Sutradara BW Purba Negara. Gala premiere nya, kesederhanaan yang haqiqi

Review ? Jamin ga spoiler haha

(more…)